Info Jatim Official Website | Blogger Members area : Register | Sign in

Tahukah Kamu

Kisah Anak Yang Mencoret Mobil Ayahnya

Selasa, 07 Februari 2012

Share to :
+1
Sepasang suami istri - seperti pasangan lain dikota- kota besar meninggalkan anak- anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja.
Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia dirumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja didapur.

Bermainlah ia bersama ayun- ayunan diatas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain- lain dihalaman rumahnya.
Suatu hari ia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dair marmer maka coretan tidak kelihatan.

Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu berwarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak- anak inipun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ketempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh dengan coretan maka ia beralih kesebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikuti imajinasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk kerumah inipun terus menjerit, " Kerjaan siapa ini!!!"...

Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih- lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan 'Saya tidak tahu tuan". "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yang kau lakukan?" hardik si isteri lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba- tiba berlari keluar dari kamarnya.

Dengan penuh manja dia berkata, " Dita yang membuat gambar itu ayahhh...cantik..kan!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah kehilangan kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon didepan rumahnya, terus dipukulkannya berkali- kali ketelapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa- apa menangis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan.

Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Sedangkan si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa.. si ayah cukup lama memukul- mukul tangan kanan dan kemudian berganti tangan kiri anaknya.

Setelah si ayah masuk kerumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka- luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis.

Anak kecil itu juga menjerit- jerit menahan pedih saat luka- lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya." Oleskan obat sana!" Jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. " Dita demam, bu," jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol saja," jawab si ibu.

Sebelum si ibu masuk kekamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu bada DIta terlalu panas.

" Sore nanti kita bawa ke klinik, pukul 5 sudah siap," kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik.

Dokter mengarahkan agar ia dibawa kerumah sakit karena keadaannya sudah serius. Setelah beberapa hari dirawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu.


" Tidak ada pilihan..." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua belah tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut." Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannnya harus dipotong dari siku kebawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata- kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yang dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan.

Dia juga heran melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah.

Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.

" Ayah, ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi... Dita tidak mau lagi ayah pukul. Dita tidak mau jahat lagi... Dita sayang ayah, sayang ibu...," katanya berulang kali membuat si ibu gagal menahan sedihnya. " Dita juga sayang mbok narti," katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

" Ayah, kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil... Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?... Bagaimana Dita mau bermain nanti?

Dita janji tidak akan mencoret- coret mobil lagi," katanya berulang- ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata- kata anaknya. Meraung- raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya.

Nasi sudah menjadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah meminta maaf...


Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran batin sampai suatu saat sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalan yang tidak bertepi...

Namun, si anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya.

kaskus.us
Terima kasih banyak atas kunjungan teman-teman Blogger ke blog saya yang sederhana ini. Selamat membaca dan jangan lupa untuk berkomentar dibawah ini.
Dukung Artikel Blog ini dengan cara klik icon disamping ini >> Dukungan

0 komentar:

Posting Komentar

 
+1