Tahukah Kamu
Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun : Turut berduka atas meninggalnya Presiden kita Gus Dur
Kamis, 31 Desember 2009
Mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dipastikan meninggal dunia pukul 18.45 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Kabar tersebut dibenarkan putri Gus Dur, Yenny Wahid, melalui telepon kepada Kompas.com.
Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) datang ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Rabu (30/12/2009) petang. Presiden Yudhoyono tiba di halaman RSCM sekitar pukul 18.30 menggunakan mobil kepresidenan dengan pengawalan tidak terlalu ketat, yakni hanya dikawal lima mobil Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
Presiden Yudhoyono yang mengenakan kemeja batik berwarna coklat tampak masuk dari pintu utama RSCM langsung menuju kamar tempat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dirawat sejak beberapa hari lalu. Tidak tampak Ibu Negara Ani Yudhoyono mendampingi Presiden. Sekitar 10 menit setelah Presiden tiba, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih datang dengan tampak agak terburu-buru. Ia kemudian segera menyusul ke kamar tempat Gus Dur dirawat yang sedang dikunjungi Presiden.
Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini dirawat di Ruang VVIP Nomor 116 Gedung A RSCM. Sebelum dirawat di RSCM Jakarta, Gus Dur sempat menjalani perawatan medis di RS Jombang Jawa Timur, pada Kamis (24/12/2009), karena kelelahan setelah melakukan kunjungan ke beberapa pondok pesantren di Jawa Timur.
Jenazah Diperkirakan Tiba di Jombang Siang Hari
Juru bicara keluarga, Muniati Sulam, mengatakan, jenazah mantan Presiden Abdurrahman Wahid diperkirakan tiba di pemakaman keluarga, Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis sekitar pukul 12.00 WIB.
Muniati Salam kepada wartawan di kediaman pribadi Gus Dur di di Jl Warung Sila No. 30, RT 02/ RW 05, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan bertindak selaku inspektur upacara pada pemakaman yang akan dilakukan secara militer.
Pada prosesi pemakaman itu, katanya, setelah jenazah dikebumikan, Presiden Yudhoyono akan menyampaikan kata sambutan atas nama negara, dilanjutkan sambutan dari pihak keluarga yang disampaikan adik kandung Gus Dur, KH Salahuddin Wahid.
Doa setelah pemakaman akan dipimpin Irfan Wahid (Ipang), putra sulung KH Salahuddin Wahid. Menurut Muniati, pada prosesi pemakaman tersebut, juga dilakukan tabur bunga oleh pihak keluarga, penimbunan liang lahat secara simbolis oleh pihak keluarga, serta peletakan karangan bunga. "Keluarga berharap, semua prosesi pemakaman berjalan lancar sesuai jadwal," katanya.
Sebelumnya, ketika menyampaikan keterangan pers kepada wartawan, putri sulung Gus Dur mengatakan, jenazah Gus Dur akan dimakamkan di di samping makam KH Hasyim Asy’ari (kakek Gus Dur), KH Wahid Hasyim (ayah Gus Dur) dan Hj Sholehah (ibunda Gus Dur).
Menurut Alissa, pihak keluarga mengucapkan terimakasih kepada pemerintah yang menawarkan agar Gus Dur dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, namun keluarga menolak karena pesan Gus Dur semasa hidupnya, agar dimakamkan di Jombang bersama keluarga besarnya.
Sementara itu, Kamis sekitar pukul 05.00 WIB, sejumlah petugas TNI yang bertugas pada upacara militer pelepasan jenazah di kediaman Gus Dur telah tiba di lokasi.
Sebagian dari mereka terlihat mengenakan seragam militer putih-putih dan sebagian lagi berseragam seragam hijau. Upacara pelepasan jenazah akan dipimpin Ketua MPR RI Taufiq Kiemas.
Taufiq Kiemas didampingi istrinya, Megawati Soekarnoputri, pada Rabu (30/12) sekitar pukul 22.00 WIB datang melayat jenazah Gus Dur di kediaman almarhum.
Selain itu, aparat kepolisian juga sudah ramai berdatangan untuk mengamankan situasi di sekitar kediaman Gus Dur, termasuk mengatur arus lalu lintas yang diperkirakan akan kembali mengalami kemacetan saat upacara pelepasan jenazah Gus Dur berlangsung.
Gus Dur Dimakamkan di Utara Pusara Kakeknya
Jenazah mantan Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur akan dimakamkan di sebelah utara pusara kakeknya yang juga pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari di Pondok Pesantren (PP) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
"Sesuai kesepakatan keluarga, rencananya makam Gus Dur di sebelah utara Mbah Hasyim Asy’ari," kata Pengasuh PP Tebuireng, KH Sholahuddin Wahid atau Gus Sholah, saat ditemui di kediamannya, Kamis.
Menurut adik kandung Gus Dur, makam kakaknya yang berada di sebelah barat masjid PP Tebuireng itu baru akan digali Kamis pagi usai salat Shubuh. "Gus Dur akan dimakamkan besok pagi pukul 09.00 WIB. Tetapi, semuanya tergantung dari Jakarta karena sekarang jenazahnya masih di sana," kata Gus Sholah.
Sementara itu, persiapan menjelang pemakaman Gus Dur sudah terlihat sejak Rabu (30/12) malam. Tenda untuk para tamu undangan sudah didirikan di timur masjid dan sebelah utara kompleks pemakaman keluarga besar PP Tebuireng.
Beberapa personel TNI Angkatan Darat dan Kepolisian Resor (Polres) Jombang, baik yang mengenakan seragam maupun berpakaian sipil juga terlihat siap siaga di dalam dan di luar kompleks pondok pesantren yang berjarak sekitar delapan kilometer arah selatan pusat kota Jombang itu.
Komando Daerah Militer (Kodam) V/Brawijaya pun mengerahkan dua unit panser terbarunya dari Surabaya untuk mengamankan lokasi upacara pemakaman mantan Ketua Umum PBNU itu. Pengamanan ekstra ketat itu terkait dengan kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menurut rencana akan menjadi inspektur upacara pada pemakaman Gus Dur di PP Tebuireng.
Jenazah Gus Dur Berangkat Diiringi Takbir
Sekitar pukul 06.40 jenazah almarhum KH Abdurrahman Wahid yang diusung pasukan upacara militer keluar rumah duka disambut iringan takbir, Kamis (31/12/2009). "Allahu akbar," teriak seorang hadirin. Sontak hadirin yang lain turut meneriakkan takbir menyambut peti jenazah almarhum yang terbungkus bendera merah putih.
Upacara militer dibuka dengan hormat senjata yang dipimpin oleh komandan upacara Kolonel Joni S.P yang berpakaian loreng bertopi hijau. Setelah sebelumnya putri pertama Gus Dur, Alissa Qatrunnada Wahid menyerahkan jenazah almarhum kepada pemerintah untuk dimakamkan secara militer.
Kemudian sekitar pukul 07.00 jenazah almarhum diberangkatkan ke bandara Halim Perdana Kusuma dengan mobil jenazah Garnisum TNI angkatan udara. Terlihat sebagian pelayat meneteskan air mata mengiringi kepergian Gus Dur sambil meneriakkan takbir dan doa.
Gus Dur Berpesan Kaum Fundamentalis Jangan Dijauhi
Menjelang akhir hidupnya, kepedulian mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid terhadap persoalan toleransi dan kerukunan umat beragama, tetaplah besar sehingga menitipkan pesan pada tokoh Katolik untuk memperlakukan kaum fundamentalis secara lebih bijak.
Romo Benny Susetyo, Sekretaris Eksekutif Hubungan Antaragama Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Jakarta, Rabu (30/12/2009) malam, merujuk pada pertemuan antara Ketua Dewan Kepausan untuk Dialog antar Agama Vatikan Kardinal Jean Louis Tauran dengan KH. Abdurrahman Wahid pada November 2009. "Saat itu Gus Dur berpesan agar kaum fundamentalis jangan dijauhi tetapi harus dicintai," katanya mengutip salah satu pesan Gus Dur.
Menurut Romo Benny, Gus Dur adalah tokoh besar bagi bangsa Indonesia. Ia sangat memperhatikan isu-isu pluralisme dan mementingkan arti dari kejujuran. Selama hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai sosok yang sangat mendedikasikan jiwa dan raganya untuk bangsa Indonesia.
"Menurut saya, hidup Gus Dur semata-mata untuk bangsa dan negara. Beliau meninggalkan kepentingan pribadinya untuk bangsa, orang yang mencintai bangsa dan menyediakan waktu untuk bangsa," kata Romo Benny yang merupakan teman dekat dari almarhum Gus Dur.
Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang hangat dan tidak pernah lepas dari guyonan-guyonan yang menyegarkan. Guyonan itulah menjadi ciri khas Gus Dur yang selalu diingat.
Lebih lanjut Romo Benny mengatakan, meski didera sakit, Gus Dur masih sempat mengucapkan Selamat Natal padanya melalui telepon pada 25 Desember 2009.
"Pada 25 Desember, beliau menghubungi saya untuk mengucapkan Selamat Natal. Saat itu Gus Dur sempat mengeluh karena sakit gigi, tapi tetap saja Gus Dur bilang masih sehat," katanya.
Dalam perbincangan tersebut, Romo Benny mengaku menerima pesan dari Gus Dur yaitu untuk menjaga Shinta Nuriyah Wahid, istri Gus Dur.
Mantan Presiden Abdurrahman Wahid meninggal dunia pada usia 69 tahun karena sakit di RSCM Jakarta, Rabu pukul 18.40 WIB. Abdurrahman Wahid menjabat Presiden RI keempat mulai 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001. Putra pertama dari enam bersaudara itu lahir di Desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 4 Agustus 1940. Gus Dur menikah dengan Shinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenni), Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.
Sumber :
kompas.com
Terima kasih banyak atas kunjungan teman-teman Blogger ke blog saya yang sederhana ini. Selamat membaca dan jangan lupa untuk berkomentar dibawah ini.
Dukung Artikel Blog ini dengan cara klik icon disamping ini >>Dukungan
Dukung Artikel Blog ini dengan cara klik icon disamping ini >>
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





0 komentar:
Posting Komentar